Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts

Tuesday, December 20, 2011

Kisah Nyata Islami : Hidayah Abdullah Uemura (Jepang)

Dalam soal iman, Islam meletakkan titik berat pada ke-Esaan Allah s.w.t., kebangkitan dari alam
kubur, kehidupan di akhirat dan perhitungan amal atau hisab, disamping segala sesuatu yang penting
atau berguna untuk kemaslahatan hidup. Boleh dikatakan bahwa kebiasaan dan ketekunan dalam
mencari keridlaan Allah s.w.t. itu dalam kenyataannya merupakan inti dari pada ajaran-ajaran Islam.
Dan dalam pencarian saya akan kebenaran, ternyata saya menemukannya dalam Islam.
Agama Kristen, atau lebih tegas Injil-Injilnya yang kita dapati sekarang itu tidak lagi sebersih pada
waktu diturunkannya dari Allah s.w.t. Dia telah mengalami perubahan berkali-kali. Dengan demikian,
maka tidaklah mungkin bisa dikatakan bahwa agama Kristen itu masih asli. Sedangkan Al-Qur'anul-
Karim diturunkan dari Allah s.w.t. dan selalu tetap seperti keadaannya semula, tanpa penggantian
atau perubahan sedikitpun. Agama Kristen yang sampai kepada kita, tidak lagi dalam bentuk yang
diturunkan dari Allah s.w.t. Dia hanya terdiri dari beberapa kalimat fatwa Jesus Kristus dan
biografmya, dan kedudukan Kristus itu dalam agama Kristen sama seperti kedudukan Hadits dalam
agama Islam. Dengan demikian, maka apa yang diwahyukan Allah dalam agama Kristen itu tidak
langsung sampai kepada kita seperti halnya dalam agama Islam.
Yang paling kacau dalam agama Kristen ialah ajaran Trinitas yang wajib diimani tanpa dapat
dimengerti permasalahannya, karena tidak ada tafsirannya yang bisa diterima oleh akal pikiran.
Disamping itu ada yang paling mengejutkan, yaitu bahwa pembebasan orang-orang yang berdosa itu
ialah kematian yang abadi yang didalamnya termasuk orang-orang yang bukan Kristen, karena
mereka itu dalam pandangan Kristen adalah orang-orang yang berdosa, karena mereka tidak
percaya kepada ajaran-ajaran Kristen. Dan kalau orang-orang yang berdosa itu yakin atas abadinya
kematian mereka, tentulah reaksi alaminya mereka akan tergelimang dalam segala keburukan dan
kesenangan sekedar untuk memuaskan hawa nafsu mereka sebelum sampainya ajal, sebab
kematian itu dalam pandangan mereka adalah penghabisan untuk selama-lamanya.
Agama Buddha Mahayana Jepang adalah campuran antara agama Buddha Ortodox dan agama
Buddha primitif. Buddha Mahayana serupa dengan Brahmana, dan ajaran-ajarannya jelas
menunjukkan keingkarannya kepada Tuhan, karena Buddha tidak mengakui jiwa abadi atau Tuhan.
Sedangkan agama Brahmans, walaupun dalam hal keingkarannya kepada Tuhan sudah jelas, tapi
para pengikutnya tidak tahu hakikat Brahma yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk
meletakkannya dalam pengertian philosofis, dan dalam usahanya ini serta dalam penyelidikan
mereka tentang hakikat kebenaran melalui penglihatan dan pendengaran, mereka tetap lebih suka
menyembah makhluk ciptaan Tuhan, dari pada menyembah Tuhan itu sendiri. Hanya Islam-lah satusatunya
agama yang menunjuki kita kepada Allah s.w.t., Tuhan Yang Hidup, Yang Memiliki segala
urusan dan segala kekuasaan, yang bersih dari kebutuhan akan tempat, Yang tidak Melahirkan tidak
dilahirkan, Yang memiliki Kerajaan di langit tujuh dan di bumi, Yang semua makhluk hanya tunduk
kepada-Nya, hanya kepada-Nya semua makhluk pada takut, dan hanya kepada-Nyalah semua
makhluk tunduk dan menyerah.
Agama Shinto7 di Jepang kekurangan nilai keutamaan, karena Shintoisme itu tidak mementingkan
akhlak atau moral secara khusus. Dalam Shintoisme, tuhan itu banyak, persis agama berhala yang
membolehkan penyembahan beberapa patung berhala.
Islamlah satu-satunya jawaban terhadap jeritan jiwa yang mencari jalan hidup yang rasional dan
kebenaran.
Catatan kaki:
7 Agama Shinto tersiar di Jepang sampai tahun 1945. Sesudah itu padam.
Sumber : Mengapa Kami Memilih Islam, Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar
Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung


Klik Untuk Keterangan Lebih Lanjut

Monday, December 19, 2011

Kisah Nyata Islami : Hidayah Abdullah Battersbey, (Mayor Tentara Inggris)

Beberapa tahun yang lalu (saat tulisan ini dimuat, ed), dalam waktu paling kurang dari seperempat
abad, adalah kebiasaan saya sehari-hari bepergian sepanjang jalan air Burma dengan menggunakan
sampan. Pengemudinya seorang Muslim, bernama Syekh Ali dari Chitagong, Bangladesh. Dia
seorang jurumudi yang mahir dan berpegang kepada ajaran-ajaran agamanya secara ikhlas, tekun
melakukan sembahyang pada waktunya. Ketaqwaannya tidak hanya menimbulkan rasa hormat saja
pada saya, tapi malahan mempengaruhi perhatian saya terhadap agama yang mampu menguasai
orang ini dan menjadikannya orang yang setia/taqwa. Di sekitar tempat tinggal saya ada beberapa
orang Burma Buddhist yang juga menunjukkan kesetiaannya, bahkan kadang-kadang mereka itu --
sebagaimana yang saya saksikan-- termasuk penghuni bumi yang paling banyak kebaikan dan
pengorbanannya. Akan tetapi bagi saya jelas adanya kekurangan dalam peribadatan mereka. Saya
tahu bahwa mereka melakukan sembahyang di pagoda, karena saya melihat mereka berkumpul
sambil duduk bersimpuh di sans dengan mengucapkar, bacaan-bacaan sembahyang mereka,
Buddham saranam gaccami, Dharma saranam gaccami, Sanghan saranam gaccami.
Mereka mengatakan bahwa dengan begitu mereka telah mengikuti petunjuk-petunjuk Buddha
sebagai hukum dan peraturan untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka. Mereka tampak terlalu
lugu, tidak bersemangat. Jauh berbeda dengan keadaan Syekh Ali pada waktu sembahyangnya.
Saya mengajaknya berbicara sepanjang perjalanan kami pada jalur-jalur jalan air yang sempit itu. Dia
tidak begitu baik berbicara selain tentang hal-hal yang memberikan dorongan bertaqwa pada jiwanya.
Dia memang seorang model dari kekuatan inspirasi Islam.
Saya telah membeli beberapa buah buku yang membahas sejarah Islam dan ajarannya. Saya juga
sedapat mungkin mempelajari sejarah hidup (biografi) Nabi Muhammad s.a.w. dengan segala
keberhasilannya yang besar-besar. Kadang-kadang saya juga berdiskusi mengenai beberapa
masalah ini bersama sahabat-sahabat saya yang beragama Islam. Tapi kemudian perang dunia ke-I
pecah, dan seperti juga banyak orang lain, saya ditugaskan pada Indian Army di Mesopotamia,
sehingga saya terjauh dari negara-negara Buddhist dan saya bergaul dengan orang-orang Arab yang
di kalangan mereka lahir seorang Rasul dan bahasa mereka menjadi bahasa Al-Qur'an.
Kehidupan saya di tengah-tengah bangsa Arab itu menyebabkan bertambahnya perhatian saya
terhadap Islam dan ajaran-ajarannya. Lalu saya belajar bahasa Arab dan bergaul lebih akrab dengan
rakyat Arab. Saya kagum atas besarnya semangat mereka menyembah Allah, sampai akhirnya saya
sendiri percaya atas ke-Esaan Tuhan, pada hal sejak kecil saya dididik untuk percaya kepada
Trinitas. Sekarang jelas bagi saya bahwa yang benar Tuhan itu Unity bukan Trinitas. Laa llaaha
illallah. Saya ingin mengumumkan diri saya sebagai orang Islam. Kenyataannya, walaupun saya
sama sekali sudah tidak lagi suka datang ke gereja dan sekali-sekali mengunjungi mesjid-mesjid
manakala menjalankan tugas resmi saya sebagai opsir polisi, hanya sewaktu saya datang ke
Palestina sajalah, yakni antara tahun 1935 dan 1942 saya menemukan keberanian untuk secara
resmi mengumumkan bahwa saya telah masuk Islam, agama yang telah saya pilih beberapa tahun
lamanya.
Adalah hari besar dalam sejarah hidup saya, ketika saya mengumumkan keIslaman saya di
Mahkamah Syar'iyyah Kota Yerusalem yang dikenal di kalangan bangsa Arab dengan nama Al-Quds
atau Baitul-Mukaddas. Waktu itu saya adalah Kepala Staf Umum, dan pengumuman saya sebagai
pemeluk Islam itu telah mengundang banyak reaksi yang kurang sedap. Sejak waktu itu saya telah
hidup dan mempraktekkan kepercayaan sebagai orang Islam di Mesir dan kemudian di Pakistan.
Islam adalah suatu agama persaudaraan terbesar sekitar 500 juta orang, dan mengikuti golongan ini
berarti mengikuti petunjuk Allah.
Kalau saya sekarang mengakui kebesaran Islam dan pada tahun-tahun terakhir ini menyerahkan
tenaga untuk memajukan Islam dengan tulisan dan kehidupan saya, maka keutamaannya kembalikepada itu orang pengemudi sampan yang ketaqwaannya telah membawa saya kembali kepada
Allah dan Islam. Sesungguhnya kita semua lahir sebagai orang Islam, hanya saya sebagai manusia
lemah telah tersesat jalan.
Sekarang, alhamdulillah, saya telah menjadi seorang anggota persaudaraan besar Islam, dan
manakala saya bersembahyang, saya merendahkan diri memohon kepada Allah untuk ruh
pengemudi sampan yang miskin itu, yang ketaqwaannya telah mendorong saya menemukan jalan
yang diilhami oleh akidahnya yang kuat dan mantap.
Allah, tidak ada Tuhan selain Dia.
Yang Hidup, Yang Kekal dan Esa.
Yang tidak diberatkan oleh sesuatu dan tidak pernah tidur.
Kepunyaan-Nya sendirilah ke-Rajaan.
Di langit dan di bumi.
Pada-Nya tersimpan kunci-kunci alam gaib,
tidak dicampuri yang lain.
Dia melihat segala yang ada di bumi, di air dan di udara. Dia melihat setiap bunga yang berkembang
dan setiap gelombang di semua lautan.
Sumber : Mengapa Kami Memilih Islam, Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar
Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung


Klik Untuk Keterangan Lebih Lanjut

Kisah Nyata Islami : Hidayah Haji Abdurkarim Oei (Oei Tjen Hien)

Ia dikenal dengan nama Haji Abdurkarim, seorang tokoh Muhammadiyah mantan anggota Parlemen
RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa
Indonesia/PITI. Pada tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta
yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota
Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.
Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar
kemudian mengikuti berbagai kursus, lalu bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Disamping itu ia
juga sebagai pandai emas, lalu ia pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia mempelajari berbagai agama
melalui bacaan buku, majalah dan suka bergaul dengan para pemeluk agama. Setelah mendapatkan
pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya dia yakin benar dan penuh kesadaran pada
umur 20 tahun lalu masuk Islam.
Ia aktif di Muhammadiyah sampai tahun 1932 dan dalam kegiatan ini lalu kenal dengan Prof. Dr.
HAMKA. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannyapun semakin tambah lalu pada tahun 1961
beliau membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi
ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya yakni Persatuan
Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, maka organisasi
PITI ini berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
Dalam dunia bisnis, dia dikenal sebagai seorang etnis yang ulet dan memegang berbagai jabatan
penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega,
Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan Mas. Sebagai
seorang muslim yang taat dia selalu menghitung dengan teliti jumlah kekayaannya untuk dikeluarkan
zakatnya. Pak Oei dikenal pula dengan si Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) juga akrab
dengan Bung Karno (Presiden I RI). Suatu ketika di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan
ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu
berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil
berbincang-bincang dengan Pak Oei. Sesampai di atas kota kedua sahabat karib itu berpisah, dan
Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
Haji Abdulkarim Oei sebagai salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya
pembauran. Hal ini dia buktikan dengan kesadarannya menjadi warganegara Indonesia yang
otomatis harus keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya. Ke Islamannya membawa Oei
otomatius ke pola hidup baru ini. Dan keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka
akan lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya
pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang diri Pak Oei ini dalam brosur "Dakwah
dan Asimilasi" tahun 1979 "Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang
muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh
masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu.
Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih terkenal dengan
sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian
dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara H. Abdulkarim
dengan Bung Karno itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa H. Abdulkarim sendiri". Di samping dia
menjadi seorang muslim yang taat, diapun dipupuk, diasuh dan akhirnya menjadi Nasionalis
Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat
Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan ia diangkat sebagai KNI Bengkulu dan sebagai
anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian dia memilih Partai Muslimin
Indonesia/PARMUS sebagai wadah perjuangannya.

Pada tahun 1982 riwayat hidupnya yang berjudul "Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa" terbitan PT
Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu.
Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan.
Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina
Muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk
Islam tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional sejak
1980-1985.
Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum`at dini hari tanggal 14 Oktober 1988
dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di
Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang
meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan 5(lima) putra-putri dan beberapa cucu.



Klik Untuk Keterangan Lebih Lanjut
My Ping in TotalPing.com
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Feedage Grade C rated
Preview on Feedage: general Add to My Yahoo! Add to Google! Add to AOL! Add to MSN
Subscribe in NewsGator Online Add to Netvibes Subscribe in Pakeflakes Subscribe in Bloglines Add to Alesti RSS Reader
Add to Feedage.com Groups Add to Windows Live iPing-it Add to Feedage RSS Alerts Add To Fwicki