Monday, December 19, 2011

Kisah Nyata Islami : Hidayah Haji Abdurkarim Oei (Oei Tjen Hien)

Ia dikenal dengan nama Haji Abdurkarim, seorang tokoh Muhammadiyah mantan anggota Parlemen
RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa
Indonesia/PITI. Pada tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta
yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota
Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.
Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar
kemudian mengikuti berbagai kursus, lalu bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Disamping itu ia
juga sebagai pandai emas, lalu ia pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia mempelajari berbagai agama
melalui bacaan buku, majalah dan suka bergaul dengan para pemeluk agama. Setelah mendapatkan
pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya dia yakin benar dan penuh kesadaran pada
umur 20 tahun lalu masuk Islam.
Ia aktif di Muhammadiyah sampai tahun 1932 dan dalam kegiatan ini lalu kenal dengan Prof. Dr.
HAMKA. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannyapun semakin tambah lalu pada tahun 1961
beliau membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi
ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya yakni Persatuan
Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, maka organisasi
PITI ini berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
Dalam dunia bisnis, dia dikenal sebagai seorang etnis yang ulet dan memegang berbagai jabatan
penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega,
Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan Mas. Sebagai
seorang muslim yang taat dia selalu menghitung dengan teliti jumlah kekayaannya untuk dikeluarkan
zakatnya. Pak Oei dikenal pula dengan si Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) juga akrab
dengan Bung Karno (Presiden I RI). Suatu ketika di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan
ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu
berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil
berbincang-bincang dengan Pak Oei. Sesampai di atas kota kedua sahabat karib itu berpisah, dan
Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
Haji Abdulkarim Oei sebagai salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya
pembauran. Hal ini dia buktikan dengan kesadarannya menjadi warganegara Indonesia yang
otomatis harus keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya. Ke Islamannya membawa Oei
otomatius ke pola hidup baru ini. Dan keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka
akan lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya
pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang diri Pak Oei ini dalam brosur "Dakwah
dan Asimilasi" tahun 1979 "Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang
muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh
masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu.
Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih terkenal dengan
sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian
dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara H. Abdulkarim
dengan Bung Karno itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa H. Abdulkarim sendiri". Di samping dia
menjadi seorang muslim yang taat, diapun dipupuk, diasuh dan akhirnya menjadi Nasionalis
Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat
Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan ia diangkat sebagai KNI Bengkulu dan sebagai
anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian dia memilih Partai Muslimin
Indonesia/PARMUS sebagai wadah perjuangannya.

Pada tahun 1982 riwayat hidupnya yang berjudul "Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa" terbitan PT
Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu.
Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan.
Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina
Muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk
Islam tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional sejak
1980-1985.
Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum`at dini hari tanggal 14 Oktober 1988
dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di
Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang
meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan 5(lima) putra-putri dan beberapa cucu.



Klik Untuk Keterangan Lebih Lanjut
My Ping in TotalPing.com
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Feedage Grade C rated
Preview on Feedage: general Add to My Yahoo! Add to Google! Add to AOL! Add to MSN
Subscribe in NewsGator Online Add to Netvibes Subscribe in Pakeflakes Subscribe in Bloglines Add to Alesti RSS Reader
Add to Feedage.com Groups Add to Windows Live iPing-it Add to Feedage RSS Alerts Add To Fwicki